CIBARUSAH,mascipol.id – Potensi konflik sosial di Desa Cibarusah Kota tidak bisa dianggap sepele. Kapolsek Cibarusah AKP Rusnawati, S.H. langsung turun ke kantor desa, Rabu 6/5/2026, setelah menerima laporan rawan gesekan warga soal bansos dan tawuran remaja.
Kunjungan mendadak itu menyasar akar masalah. Wilayah Cibarusah Kota kerap jadi titik panas saat pembagian bantuan sosial. Data penerima yang tidak transparan memicu kecemburuan, adu mulut, bahkan nyaris baku hantam antar warga.
AKP Rusnawati hadir bersama Kasium Aiptu Purnama Sidik, Bhabinkamtibmas Aiptu Kamaludin, dan Anggota Intelkam Bripka Janwar Isnaeni. Mereka diterima Kepala Desa Iwan Setiawan, S.H. yang mengakui pemerintah desa kewalahan meredam protes warga tiap bansos turun.
“Saya tidak mau ada keributan hanya karena beras dan minyak. Masalahnya bukan di bantuan, tapi di data yang tidak dibuka. Ini yang harus kita bereskan bareng,” tegas AKP Rusnawati saat meninjau penyaluran ke Keluarga Penerima Manfaat.
Fakta di lapangan, banyak warga mampu justru dapat bantuan, sementara warga miskin terlewat. Perangkat desa mengaku pendataan masih manual dan rawan intervensi. Situasi ini jadi bom waktu jika tidak dikawal polisi sejak awal.
Masalah kedua yang disorot Kapolsek adalah tawuran remaja di perbatasan Cibarusah-Jonggol. Tiap malam minggu, kelompok pemuda konvoi sambil bawa senjata tajam. Warga Desa Cibarusah Kota paling terdampak karena jadi jalur melintas geng motor.
“Kami dapat laporan anak-anak nongkrong sampai jam 2 pagi. Orang tua tidak tahu. Begitu tawuran, baru semua panik. Ini tidak boleh dibiarkan,” kata AKP Rusnawati di hadapan perangkat desa.
Bhabinkamtibmas Aiptu Kamaludin membongkar masalah lain: warung berkedok toko kelontong yang jual obat keras dan miras ke anak sekolah. Tanpa info dari RT/RW, polisi sulit razia. Desa terkesan tutup mata karena takut disebut mempermalukan warganya.
Kepala Desa Iwan Setiawan, S.H. akhirnya buka suara. Ia mengakui linmas dan Siskamling di Cibarusah Kota banyak yang tidak aktif. Alasannya klasik: warga malas ronda dan tidak ada insentif. Padahal patroli malam jadi kunci cegah tawuran.
AKP Rusnawati langsung mendesak Kades untuk hidupkan kembali ronda dan wajibkan grup WhatsApp darurat per RT. Setiap ada orang mabuk, sengketa tanah, atau gelagat tawuran, harus langsung masuk ke HP Bhabinkamtibmas.
“Kami bukan mau menghukum warga. Kami mau cegah sebelum jadi kasus. Kalau desa diam, kami tidak bisa tahu ada masalah. Ujungnya konflik meledak, baru polisi disalahkan,” ujar Kapolsek.
Perangkat desa mengaku selama ini enggan lapor polisi karena takut urusan jadi panjang. Padahal, menurut AKP Rusnawati, laporan dini justru menyelamatkan warga dari proses hukum. Mediasi di tingkat desa jauh lebih ringan daripada sampai meja Polsek.
Saat pembagian bansos, banyak ibu-ibu curhat ke Kapolsek. Anaknya ikut nongkrong dan pernah kena razia. Mereka minta polisi lebih sering patroli, tapi juga minta desa tidak pilih kasih saat mendata penerima bantuan.
Masalah sengketa batas tanah juga muncul. Beberapa warga lapor ke Kades tapi tidak ditindaklanjuti karena takut salah satu pihak tersinggung. AKP Rusnawati menegaskan, membiarkan sengketa kecil bisa jadi konflik berdarah antar keluarga.
Pukul 11.30 WIB kunjungan selesai. Situasi aman saat pembagian bansos karena ada polisi. Tapi PR besar menanti: Desa Cibarusah Kota harus berani transparan soal bansos, aktifkan ronda, dan tidak takut lapor. Jika tidak, konflik sosial tinggal tunggu waktu meledak.
